‎Diangkut Setiap Hari, Mengapa Sampah Tetap Meluber?

Mobil truk pengangkut sampah di Banjarmasin. (Foto: Leon/Koranbanjar.com)

Meski diangkut setiap hari, tumpukan sampah di jalur masuk Komplek Perumnas Lingkar Basirih, Banjarmasin Selatan, tetap menggunung dan meluber hingga ke badan jalan. Kondisi ini memicu pertanyaan warga tentang efektivitas sistem pengelolaan sampah di kawasan tersebut.

BANJARMASIN, koranbanjar.com – Pengangkutan dilakukan setiap hari. Namun tumpukan sampah di jalur masuk Komplek Perumnas Lingkar Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan, tetap menggunung dan meluber hingga ke badan jalan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan warga, di mana letak persoalannya?

‎Pantauan di lokasi, Selasa (10/2/2026), sampah terlihat menumpuk di tepi jalan yang menjadi akses strategis menuju pusat Kota Banjarmasin.

‎Genangan air lindi berwarna gelap bercampur limbah tampak mengalir ke aspal, terutama setelah hujan turun. Bau menyengat tercium kuat, memaksa sebagian pengendara menutup hidung saat melintas.

‎Ketua RT 13 Perumnas Lingkar Basirih, Muhadi, mengatakan pengangkutan sampah memang rutin dilakukan setiap hari. Namun volume yang diangkut dinilai belum mampu mengimbangi jumlah sampah yang masuk.

‎“Setiap hari ada pengangkutan, tapi masih banyak yang tertinggal. Akhirnya terus menumpuk dan meluber ke jalan. Saluran air juga tertutup,” ujarnya.

‎Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung kurang lebih lima tahun terakhir. Sekitar 80 persen warga komplek mengeluhkan situasi itu karena mengganggu kenyamanan dan menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan.

‎Selain mengotori jalan, air lindi dari timbunan sampah dilaporkan mengalir ke sungai di dalam kawasan perumahan. Sungai yang sebelumnya dimanfaatkan warga kini berubah warna menjadi hitam pekat dan tampak tidak lagi mengalir lancar.

‎Lurah Basirih Selatan, Solhan, mengakui keluhan warga sudah lama diterima pihak kelurahan. Ia menyebut lokasi pembuangan tersebut bukan tempat resmi, namun keterbatasan fasilitas TPS di wilayah sekitar membuat kondisi sulit dikendalikan.

‎“Pengangkutan memang ada, tetapi jika kapasitasnya tidak ditingkatkan sementara volume sampah terus bertambah, penumpukan akan tetap terjadi,” katanya.

‎Ia menambahkan, pihak kelurahan telah mengusulkan pembangunan TPS di lahan fasilitas umum sejak 2021. Namun hingga kini belum ada realisasi karena alasan efisiensi anggaran.

‎Kondisi ini menandakan persoalan bukan sekadar ada atau tidaknya pengangkutan, melainkan soal efektivitas dan kapasitas sistem pengelolaan sampah.

‎Tanpa evaluasi menyeluruh mulai dari armada angkut, frekuensi ritase, hingga penyediaan TPS resmi, penumpukan berpotensi terus berulang.

‎Bagi warga, yang mereka lihat bukan jadwal pengangkutan di atas kertas, melainkan fakta di lapangan, sampah tetap menggunung, jalan tetap kotor, dan sungai terus tercemar.

‎Mereka berharap pemerintah kota dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret agar pengangkutan harian benar-benar berdampak, bukan sekadar rutinitas tanpa hasil. (yon/bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *