Antisipasi Karhutla, Adaro Perkuat Kesiapsiagaan

Pembinaan, pembekalan, dan simulasi pengendalian karhutla yang digelar PT Adaro Indonesia, Kamis (9/4/2026). (Foto: Adaro/Koranbanjar.com)

PT Adaro Indonesia memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui kegiatan pembinaan, pembekalan, dan simulasi pengendalian karhutla. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Induksi PT Adaro Indonesia, Kamis (9/4/2026).

TABALONG, koranbanjar.com – Sekitar 50 peserta terlibat. Terdiri dari Masyarakat Peduli Api (MPA) Ring 1 Tabalong dan Balangan, tim pengendalian karhutla PT Adaro Indonesia dan mitra kerja, serta perwakilan tim mining.

Kegiatan ini menghadirkan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan sebagai pembekal. Kolaborasi lintas sektor menjadi fokus utama dalam menghadapi risiko karhutla tahun ini.

Kepala Teknik Tambang PT Adaro Indonesia, Deny Widihatmoko, menyampaikan pentingnya kesiapan sejak dini. Ia menegaskan bahwa prediksi cuaca menunjukkan musim kemarau datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang pada 2026.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, potensi kebakaran di area operasional sangat tinggi saat kemarau panjang,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembekalan dari Dinas Kehutanan menjadi langkah penting. Pengetahuan mengenai teknik pemadaman diharapkan dapat meningkatkan kemampuan personel di lapangan.

“Kesiapan personel dan peralatan menjadi kunci agar karhutla dapat dikendalikan dan tidak meluas,” katanya.

Kegiatan ini juga menjadi wujud kepatuhan perusahaan terhadap kewajiban Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH), di mana pemegang izin wajib menjaga dan mengamankan area kawasan hutan dari ancaman kebakaran.

Simulasi pengendalian karhutla PT Adaro Indonesia, Kamis (9/4/2026). (Foto: Adaro/Koranbanjar.com)

Perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Bambang Marwanto, memberikan apresiasi atas langkah cepat Adaro.

Ia menyoroti perubahan siklus fenomena El Nino, di mana tahun 2026 diprediksi menjadi tahun yang menantang.

“Tahun 2026 ini sudah mulai terasa. Kita harus bersiap lebih awal, terutama dalam pencegahan,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Eko dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. Ia memaparkan kondisi cuaca yang mulai mengarah pada musim kering.

“Sejak April, sekitar 2,6 persen wilayah di Kalimantan Selatan sudah memasuki masa panas, terutama di Barito Kuala dan Balangan,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi akan meningkat signifikan pada Mei. Cakupan wilayah panas diperkirakan mencapai 43 persen, termasuk Tanah Laut dan Tabalong.

“Puncaknya terjadi pada Juli hingga September. Seluruh wilayah akan mengalami kondisi sangat panas dan kering,” paparnya.

Ia menegaskan bahwa tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Data satelit NASA dan NOAA menunjukkan potensi kemarau kering tanpa hujan.

Eko mengibaratkan kesiapan karhutla seperti menyiapkan sebuah hajatan besar, yang harus disiapkan segalanya jauh-jauh hari.

“Jika puncaknya September, maka sejak April kita sudah harus menyiapkan diri, ilmu, dan peralatan agar saat karhutla itu datang, kita sudah siap,” pungkasnya. (bay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *