Slogan “Kota Seribu Sungai” seolah menjadi ironi bagi warga di pinggiran Kota Banjarmasin. Di balik gemerlap pembangunan pusat kota, distribus air bersih tidak lancar masih mencekik warga di kawasan marginal, memicu lahirnya istilah “kasta pelayanan” dalam tubuh PT Air Minum (Perseroda) Bandarmasih.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Lewat catatannya, Sabtu (24/1/2026) di Banjarmasin, pengamat kebijakan publik, Noorhalis Majid menyebut fenomena ini sebagai praktik “Bapalihan”. Sebuah kondisi di mana distribusi air bersih tidak lagi berlandaskan pada asas keadilan sosial, melainkan letak geografis dan status kawasan.
Mantuil Menanti Tetes Air di Ujung Pipa
Di saat penghuni kompleks perumahan mewah di pusat kota dapat menikmati aliran air deras selama 24 jam, warga di ujung Mantuil justru harus bergelut dengan pipa yang sering kali hanya mengeluarkan suara angin. Jika pun mengalir, debitnya sangat kecil dan tidak jarang keruh.
”Kualitas layanan sekarang justru bapalihan. Artinya, tidak semua daerah mendapat layanan yang sama baiknya. Di tempat elit, kualitasnya sangat bagus. Namun, di daerah pinggiran seperti Mantuil, airnya kecil bahkan tidak lancar,” ujar Noorhalis Majid dalam catatannya.
Kondisi ini memaksa warga di daerah pinggiran mencari alternatif lain, mulai dari menampung air hujan hingga kembali menggunakan air sungai yang kualitasnya kian menurun, demi memenuhi kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) sehari-hari.
Lanjut dikatakan tokoh Ambin Demokrasi ini, dulu PAM Bandarmasih adalah kebanggaan dengan moto “Kada Bawayahan” (tidak bergiliran/setiap waktu). Prestasi cakupan layanan yang mencapai 110% sempat membawa perusahaan ini menjadi percontohan nasional.
Namun kini, kejayaan itu seolah menjadi dongeng masa lalu. Problem infrastruktur berupa pipa tua yang keropos dan sering bocor selalu menjadi alasan klasik.
Bagi masyarakat, alasan teknis tidak seharusnya menjustifikasi ketimpangan layanan. Apalagi, investasi ratusan miliar rupiah dari dana publik terus dikucurkan setiap tahunnya.
Mantan pimpinan Ombudsman Kalsel ini menekankan bahwa layanan publik visioner seharusnya tidak membiarkan warga di daerah sulit menderita tanpa kompensasi.
Menurutnya, Manajemen PAM Bandarmasih terkesan kurang responsif dan tidak akuntabel dalam menyediakan solusi jangka pendek bagi wilayah terdampak.
”Minimal pelanggan diberitahu dan diberikan pelayanan alternatif, seperti mobil tangki atau penyediaan tong-tong air bagi masyarakat yang sangat membutuhkan air bersih,” tegasnya.
Tanpa adanya transparansi mengenai peta pembenahan infrastruktur, masyarakat khawatir dana publik yang digelontorkan tidak menyentuh akar masalah di wilayah-wilayah krisis. Melainkan hanya mempercantik layanan di kawasan yang sudah mapan.
Kekecewaan publik kian memuncak ketika isu kegagalan teknis ini dibarengi dengan berita miring seputar internal perusahaan, mulai dari isu dugaan nepotisme hingga kompetensi staf yang diragukan.
Kepercayaan publik yang kian tergerus ini menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Kota Banjarmasin untuk membuktikan bahwa air bersih adalah hak seluruh warga, tanpa terkecuali.
Rakyat kini menunggu, kapan “Kada Bapalihan” benar-benar terwujud, sehingga air bersih tak lagi menjadi kemewahan yang hanya milik kalangan tertentu.
Menanggapi sorotan ini, Plh Dirut PAM Bandarmasih, Zulbadi, memberikan klarifikasi terkait komposisi anggaran. Menurutnya, angka Rp300 miliar tersebut merupakan akumulasi dari biaya operasional dan investasi.
”Dana operasional digunakan untuk pengolahan air bersih. Sedangkan dana investasi—seperti penggantian pipa bocor, pompa, dan alat produksi—berkisar antara Rp100 hingga Rp150 miliar per tahun,” papar Zulbadi.
Terkait distribusi air tidak lancar di Mantuil, Zulbadi berjanji akan segera menerjunkan tim teknis untuk melakukan pengecekan lapangan. Ia juga memaparkan rencana strategis tahun 2026.
”Tahun ini kami akan melakukan peremajaan pipa secara besar-besaran, terutama di wilayah Barat, mulai dari Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Sutoyo S. Target kami adalah memastikan seluruh warga Banjarmasin mendapatkan akses air bersih yang layak guna mendukung kesehatan dan pertumbuhan ekonomi,” janjinya. (yon/bay)
Kasta Air di Banjarmasin; Mengapa Warga Mantuil Harus Puas dengan Sisa Aliran Kawasan Elit?












