Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan dari Partai Demokrat, Gusti Abidinsyah, meninjau langsung kondisi infrastruktur yang memprihatinkan di Desa Aranio, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Rabu (7/1/2026).
BANJAR, koranbanjar.com – Peninjauan ini dilakukan menyusul putusnya dua jembatan penghubung antar-kampung akibat terjangan banjir dua minggu silam.
Putusnya jembatan di wilayah RT 02 RW 01 tersebut berdampak signifikan terhadap mobilitas warga. Arus sungai yang kuat tidak hanya menghancurkan struktur bangunan, tetapi juga memutus akses utama para petani dan pekebun menuju lahan kerja mereka.
”Vitalitas jembatan ini sangat tinggi. Saat ini transportasi masyarakat terputus total, padahal mayoritas warga di sini menggantungkan hidup pada sektor perikanan, perkebunan, dan pertanian,” ujar Gusti Abidinsyah di sela kegiatannya meninjau lokasi.
Sebagai bentuk kepedulian awal, politisi senior ini memberikan bantuan dana sebesar Rp10 juta.
Bantuan tersebut dimaksudkan untuk meringankan beban masyarakat dalam mengupayakan perbaikan darurat secara swadaya.
Namun, Gusti menekankan bahwa solusi jangka pendek tidaklah cukup. Ia mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) untuk segera membangun jembatan permanen yang representatif, terutama yang dapat dilalui kendaraan roda empat (mobil).
”Kami berharap pemerintah daerah segera membangun jembatan permanen. Mengingat pentingnya jalur ini, jembatan yang akan datang harus bisa dilalui mobil untuk menunjang distribusi hasil bumi,” tegasnya.
Urgensi pembangunan jembatan ini tidak hanya terbatas pada Desa Aranio. Gusti menjelaskan bahwa jalur tersebut merupakan akses strategis yang menghubungkan wilayah tersebut dengan jalur jalan tol dan menjadi urat nadi bagi enam desa lainnya di area seberang.
“Jembatan ini adalah akses kunci. Jika dibangun secara permanen dan bisa dilalui mobil, ini akan membuka keterisolasian enam desa di belakangnya dan mempercepat akses menuju jalan tol,” tambahnya.
Masyarakat setempat sebenarnya telah berupaya melakukan perbaikan secara mandiri, namun keterbatasan alat dan dana membuat pembangunan jembatan yang kokoh sulit terealisasi tanpa intervensi pemerintah.
Gusti Abidinsyah berkomitmen untuk terus mengawal usulan pembangunan ini agar masuk dalam skala prioritas anggaran pemerintah daerah di masa mendatang.
Sementara Camat Aranio, mengucapkan terima kasih kepada Gusti Abidinsyah atas bantuan yang diberikan dalam hal membantu masayarakat Desa Aranio yang ingin membangun secara swadaya.
”Kami berharap dengan adanya bantuan dari Pak Gusti Abidinsyah, aktivis bekerja dan produktivitas di masyarakat bisa berjalan normal kembali,” ucapnya.
Sementara jumlah penduduk desa Aranio saat ini diperkirakan 12 ribu penduduk dengan total 12 desa.
Kepala Desa (Pembakal) Aranio, Khairiyadi, menyampaikan apresiasi mendalam atas gerak cepat legislator tersebut. Menurutnya, bantuan senilai Rp10 juta yang diberikan akan dialokasikan untuk perbaikan darurat demi menyambung kembali jalur yang terputus.
”Kedatangan Pak Gusti Abidinsyah bukan sekadar soal bantuan materi, tetapi menjadi suntikan motivasi bagi masyarakat untuk bangkit dan kembali bersemangat dalam bekerja,” ungkap Khairiyadi.
Ia memaparkan bahwa jembatan ini pertama kali dibangun pada tahun 2006. Sejak saat itu, infrastruktur tersebut sudah mengalami tiga kali kerusakan parah hingga putus.
Ironisnya, selama hampir dua dekade, perbaikan selalu bertumpu pada dana swadaya dan gotong royong masyarakat tanpa sentuhan permanen dari pemerintah setempat.
Dampak putusnya jembatan ini sangat masif. Supriyadi, salah satu warga setempat, membeberkan bahwa sektor unggulan desa seperti perikanan keramba, perkebunan, dan pertanian kini lumpuh total.
”Usaha kami terhenti. Membawa pakan ikan atau hasil tani jadi mustahil karena akses terputus. Kami tidak bisa ke mana-mana,” keluh Supriyadi dengan nada getir.
Selain melumpuhkan ekonomi, aspek sosial dan pendidikan juga terdampak serius. Sebagian besar rumah penduduk berada di seberang sungai, sehingga anak-anak yang ingin berangkat sekolah harus mempertaruhkan keselamatan atau bahkan terpaksa tidak bersekolah sama sekali.
“Kondisi ini membuat kami sangat resah dan sedih,” tambahnya.
Masyarakat Desa Aranio bukannya tinggal diam. Berbagai upaya birokrasi telah ditempuh untuk mendapatkan bantuan perbaikan jembatan yang layak.
Supriyadi mengaku telah mendampingi Pambakal untuk mengantarkan proposal permohonan bantuan ke pemerintah daerah.
”Kami sudah mengantarkan proposal secara resmi, namun hingga saat ini belum ada tanggapan atau realisasi,” tegasnya.
Menutup keterangannya, Supriyadi memohon agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk membangun jembatan permanen di Desa Aranio.
Ia menekankan bahwa jembatan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan urat nadi aktivitas ekonomi dan masa depan anak sekolah di desa tersebut.
”Harapan kami besar, mudah-mudahan tahun ini pembangunan permanen dapat direalisasikan pemerintah daerah,” pungkasnya. (yon/bay)












