Bendera duka berkibar di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin. Kain hitam itu seolah berbicara lebih banyak daripada kata-kata, tentang kehilangan, tentang rasa aman yang runtuh, dan tentang duka yang tak hanya dimiliki satu keluarga, tetapi seluruh kampus.
BANJARMASIN, koranbanjar.com – Zahra Dilla, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, telah pergi. Ia ditemukan meninggal dunia pada Rabu (24/12/2025) di dalam saluran drainase kawasan Kampus STIHSA Banjarmasin.
Di tengah suasana duka tersebut, Rektor ULM Banjarmasin, Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, menyampaikan pernyataan yang singkat namun sarat makna.
Ucapan belasungkawa yang disampaikannya bukan sekadar formalitas institusi, melainkan suara moral sebuah kampus yang kehilangan salah satu mahasiswinya secara tragis.
“Saya tentu ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Zahra dan berharap kasus ini segera terungkap secara jelas. Selanjutnya diharapkan agar pelaku dihukum setimpal dengan perbuatannya,” ujar Ahmad Alim Bachri kepada koran banjar ketika dimintai tanggapan lewat WhatsApp atas peristiwa tragis yang menimpa salah satu mahasiswinya, Jumat (26/12/2025) di Banjarmasin.
Pernyataan itu menjadi penanda sikap tegas ULM, berduka, namun tidak bungkam. Kampus memilih berdiri di jalur kemanusiaan dan keadilan.
Zahra bukan hanya nama dalam laporan kepolisian. Ia adalah mahasiswi yang datang ke kampus dengan harapan belajar, bertumbuh, dan menata masa depan.
Kepergiannya menyisakan kekosongan bangku kuliah yang tak lagi terisi, rencana akademik yang terhenti, dan mimpi yang tak sempat selesai.
Sejumlah mahasiswa ULM mengaku terpukul atas peristiwa ini. “Kami masih sulit percaya. Ini bukan sekadar kehilangan teman, tapi juga rasa aman,” ujar salah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi yang enggan disebutkan namanya.
Kasus ini menyita perhatian publik karena melibatkan Bripda MS, seorang oknum anggota Polri, sebagai tersangka. Fakta tersebut menambah lapisan keprihatinan dan memunculkan pertanyaan besar tentang relasi kuasa serta perlindungan terhadap perempuan.
Dalam konteks inilah, suara rektor menjadi penting. Kampus tidak sekadar menjadi ruang akademik, tetapi juga penjaga nilai.
Pernyataan Ahmad Alim Bachri mencerminkan posisi institusi pendidikan yang menolak kekerasan dalam bentuk apa pun, tanpa memandang latar belakang pelaku.
Polda Kalimantan Selatan melalui Kabid Propam Kombes Pol Hery Purnomo menyatakan institusinya berdiri di sisi korban.
Ia menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan permintaan maaf dan belasungkawa langsung kepada keluarga Zahra. Proses etik terhadap tersangka akan dilakukan secara terbuka agar publik dapat menyaksikan penegakan hukum berjalan.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Adam Erwindi mengungkapkan hasil autopsi menunjukkan adanya trauma tumpul pada bagian leher korban. Temuan tersebut memperkuat dugaan tindak kekerasan yang berujung pada kematian Zahra.
Berdasarkan keterangan kepolisian, peristiwa ini bermula dari pertemuan korban dan tersangka pada Selasa malam (23/12/2025).
Hubungan personal keduanya disebut berujung pada pertengkaran. Dalam kondisi emosi, tersangka diduga melakukan tindakan kekerasan hingga korban meninggal dunia, sebelum akhirnya jasad korban dibuang ke saluran drainase.
Secara hukum, tersangka dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan serta Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Proses hukum masih berjalan, dan publik menanti kejelasan serta ketegasan penegakan hukum.
Bagi ULM, tragedi ini menjadi luka kolektif. Namun, di balik kesedihan, kampus berharap peristiwa ini menjadi momentum refleksi bersama, tentang pentingnya perlindungan terhadap mahasiswi, tentang kekerasan berbasis relasi kuasa, dan tentang keadilan yang tidak boleh ragu ditegakkan.
Suara Rektor ULM di tengah duka menjadi penegasan, bahwa kampus tidak boleh diam ketika kemanusiaan dilukai. Bahwa Zahra Dilla tidak boleh dilupakan sebagai angka statistik semata.
Ini adalah pengingat bahwa rasa aman adalah hak dan keadilan yang merupakan keharusan, baik bagi Zahra maupun bagi setiap mahasiswa yang berharap pulang dari kampus dengan selamat. (yon/bay)
Suara Rektor di Tengah Duka, Tuntut Keadilan atas Kepergian Zahra












